Sunday, May 10, 2020

Resume belajar menulis tanggal 04 Mei 2020

Pemateri tanggal 04 Mei 2020



Belajar Menulis Gelombang 10
Pertemuan 5    : Senin, 04 Mei 2020
Waktu              : Pukul 13.00 -15.00 WIB
Pemateri          : Ukim Komarudin
Topik               : Pengalaman Menerbitkan Tulisan di Penerbit Mayor
Peresum          : Kaswati,S.Pd
                          ( bukaswati@gmail.com )



Pengalaman Menerbitkan Tulisan di Penerbit Mayor

Seorang Ukim Komarudin sangat berterima kasih kepada panitia yang telah memberikan kesempatan kepadanya untuk berbagi pengalaman. Beliau bersemangat untuk berbagi pengalaman tentang menerbitkan tulisan di penerbit mayor.

Kutipan dari paparan menerbitkan tulisan di penerbit mayor dari Ukim Komarudin

Menulis merupakan ekspresi pribadi. Oleh karena itu, menulis sangat penting karena tulisan memiliki tempat mencurahkan segala kegelisahan atau apapun bentuknya. Tak perlu merasa khawatir, terkait dengan kualitas tulisan. Jangan memperdulikan dengan ragam atau apa yang menjadi trend di masyarakat. Pokoknya menulis. Menulis adalah kebutuhan. Menulis dengan jujur, sejujur-jujurnya. Apa adanya. Selain menulis apa adanya, beliau pun menulis apa saja. Karena beliau adalah seorang guru. Beliau menulis terkait pelajaran, beragam kegiatan berupa proposal, liputan kegiatan yang harus dituliskan di majalah, dan menulis buku harian.

Hingga sampai suatu hari, tulisan-tulisan itu mulai dilirik orang-orang terdekat, yang dalam hal ini teman-teman guru. Satu dua teman berkomentar bahwa tulisannya bagus. Istilah mereka, tulisan saya emotif. Kata mereka juga, tulisan Bapak Ukim Komarudin dapat membuat pembaca larut dalam cerita. Ada juga yang mengatakan bahwa bahasa saya sederhana dan mudah dicerna oleh pembaca. Ada juga yang mengaku bahwa sepenggal tulisan beliau dapat dijadikan ceramah atau kultum, dan sebagainya.

Karena komentar tersebut, Bapak Ukim Komarudin mencoba membukukan tulisan-tulisannya yang selama ini merekam semua kejadian karena saya memang senang membuat buku harian. Ada beragam kejadian, tetapi tema besarnya, yang beliau tuliskan merupakan pelajaran seorang dewasa (guru) dari anak-anak "cerdas" yang menjadi siswanya. Oleh karena tulisan itu beragam kejadian, beragam waktu, dan dari beragam tokoh, maka beliau menuliskan judul buku tersebut, "Menghimpun yang Berserak." Sebuah usaha untuk mengumpulkan segenap mutiara yang berserakan dalam kehidupan yang sangat bermanfaat bagi beliau dan pembaca.

Waktu itu beliau yang kebetulan menjadi penanggung jawab penerbitan buku di sekolah menyisipkan karya pribadi, selain karya bersama (berlima) menulis dan berupaya buku mata pelajaran. Trik mendapatkan pengetahuan menerbitkan buku beliau dapat saat di interview terkait buku mata pelajaran dan buku yang berjudul menghimpun yang berserakan.

Bapak Ukim Komarudin banyak mendapatkan pelajaran menyangkut hal-hal yang tadinya tidak beliau pikirkan. Pelajaran atau informasi itu awalnya, membuat beliau tidak nyaman karena menabrak prinsip menulisnya. Beliau serasa terpenjara saat itu, karena tidak ada kebebasan yang dirasakan setelah interview. Beliau jujur, ada jarak agak lama berselang setelah kejadian itu untuk menulis. Beliau perlu waktu untuk menjernihkan pikiran. Untunglah manusia itu punya sahabat. Beliau menceritakan permasalahannya yang beliau rasakan kepada teman yang sudah menjadi penulis "beneran". Hebatnya, teman beliau menceritakan bahwa pengalaman yang Bapak Ukim Komarudin dapatkan itu baik dan mestinya disyukuri. Ia kemudian menjelaskan tentang proses menulis yang melibatkan tim agar tulisan yang kita buat sampai kepada pembaca. Ia menyudutkan Bapak Ukim Komarudin dengan mengatakan bahwa sikapnya menyebabkan tulisan hanya untuk sendiri. kalau pun nanti ada yang membaca itu hanya segelintir orang saja. Itu berarti, menulis minimal dalam memberi manfaat buat orang lain atau istilah lainnya penulis egois. Beliau akhirnya tersadar mendapatkan ilmu pengetahuan lebih ketika sahabatnya menjelaskan tentang tim yang akan menyebabkan karya saya dapat dinikmati orang banyak. Sahabatnya menjelaskan bahwa yang menanyai itu mungkin editor. sebab, beliaulah garda depan yang menentukan naskah itu layak diterbitkan atau sebaliknya. Menurut sahabatnya itu, naskah seorang Ukim Komarudin sepertinya punya potensi atau "layak" untuk diterbitkan. Tetapi sebagai pemula, karya saya memang harus dipoles di sana sini.

Jika nanti naskah itu bisa melewati editor, maka proses "menjadi" memang mengalami banyak hal. Ada bagian gambar sampul, ilustrasi, photo jika diperlukan, tata letak, dan lainnya. Yang jelas, semuanya merupakan tim penulis. Kasarnya, semuanya akan menyukseskan seorang penulis.

Dari situlah yang menyebabkan seorang Ukim Komarudin menindaklanjuti pertemuan dengan penerbit. Selain hal-hal yang umum tentang buku mata pelajaran yang ditulis bersama, beliau mengkhususkan pikiran ke buku "Menghimpun yang berserak". Yang menenangkan, editor menceritakan bahwa semua hal menangkut buku saya selalu dalam konfirmasi. Artinya, semuanya akan terjadi jika beliau setuju.

Demikianlah proses yang dijalani beliau, hingga akhirnya ada proses sebelum naik cetak, yang sangat penting dalam proses kreatif penulis , yakni menerima dami atau calon buku yang sama persis jika akhirnya bisa dicetak. Beliau gembira sekali menerima buku dami itu. Terus terang saking gembiranya, beliau menandatangi saja kontrak kerjasama tanpa membaca persentase yang kelak saya terima. Diduga sikap itu bukan sembrono, tetapi karena memang beliau menulis bukan untuk hal tersebut.

Akhirnya, beliau mendapat konfirmasi bahwa ada meeting terkait dengan terbitnya buku. Pertama, beliau menerima buku pribadi, kalau tidak salah jumlahnya hanya 5 buku. Buku tersebut berstempel tidak diperjual belikan. Kedua, beliau diajak bicara terkait dengan teknis launching Buku "Menghimpun yang Berserak". Ini soal bagaimana membuat buku beliau laku. Kedua, beliau diberitahu bahwa penerbit menerbitkan jumlah yang diterbitkan pada penerbitan pertama ini dan kurang lebih 6 bulan kemudian saya baru akan mendapat royaltinya. Untuk tersebut juga beliau tidak pandai memberi masukan. Peran beliau kemudian adalah mengusahakan bukunya dapat dinikmati orang lain. Kala itu agak sulit karena media sosial belum sedasyat sekarang. kebetulan beliau pembicara, berupaya menjual buku-bukunya pada kesempatan bicara tersebut.



Kesimpulan :

  •  Menulis merupakan ekspresi pribadi.
  • menulis sangat penting karena tulisan memiliki tempat mencurahkan segala kegelisahan atau apapun bentuknya.
  • Tak perlu merasa khawatir, terkait dengan kualitas tulisan. Jangan memperdulikan dengan ragam atau apa yang menjadi trend di masyarakat. Pokoknya menulis.
  • Menulis adalah kebutuhan. Menulis dengan jujur, sejujur-jujurnya apa adanya, sehingga kita merasa nyaman.
  • Untuk menerbitkan tulisan menjadi sebuah buku kita butuh yang namanya Tim, dimana dalam Tim itu ada yang namanya editor sebagai garda terdepan dalam kesuksesan terbitnya sebuah buku.

No comments:

Post a Comment

Puisi

                      Untaian Cerita Soreku Detik detik jarum jam mengingatkan ku pada seseorang disampingku saat belajar di bangku...