Belajar Menulis Gelombang 10
Pertemuan 14 : Jumat, 15 Mei 2020
Waktu : Pukul 13.00 -15.00 WIB
Pemateri : Wijaya Kusumah ( Omjay )
Topik : Ketika Bukumu Ditolak Penerbit Mayor
Peresum : Kaswati,S.Pd
( bukaswati@gmail.com )
Sedih rasanya bila buku yang kita tulis ditolak oleh penerbit. Omjay sendiri pernah merasakannya. Makan tak enak, tidurpun tak nyenyak. Lebih baik sakit gigi daripada sakit hati kata Omjay.
Namun Omjay termasuk orang yang pantang menyerah. Ketika naskah bukunya ditolak para penerbit mayor, beliau tidak putus asa. Beliau menerimanya dengan lapang dada dan senyuman meskipun terasa pahit.
Berkali kita gagal lekas bangkit dan cari akal. Berkali kita jatuh lekas berdiri jangan mengeluh. Jadilah guru tangguh berhati cahaya. Kegagalan adalah awal dari sukses yang tertunda. Gembirakan dirimu dengan terus belajar kepada orang-orang yang telah sukses menerbitkan bukunya.
Beliau memperbaiki tulisannya. Kemudian beliau baca kembali. Beberapa teman yang beliau percaya , dimintai untuk memberikan masukan. Hasilnya buku beliau menjadi lebih baik dari sebelumnya dan lebih enak untuk dibaca. Sakit hati ini terasa terobati.
Ibarat seorang mahasiswa S1 yang skripsinya dipermak habis sama dosen pembimbingnya. Ibarat mahasiswa S2 yang tesisnya ditolak promotornya dan ibarat mahasiswa S3 yang ditolak proposal desertasinya.
Beliau sangat berterima kasih kepada para penerbit yang sudah menolak buku yang telah disusunnya. Dengan begitu buku yang disusun menjadi layak jual. Coba kalau seandainya naskah buku beliau langsung diterima, pasti banyak yang tidak laku karena isinya kurang menarik hati pembaca. Buku Omjay terbit tapi tidak banyak pembelinya, karena bukunya tidak menarik hati pembaca.
Pengalaman menarik Omjay saat aku menulis apa adanya, ternyata buku dilombakan menang. Tetapi Omjay pernah menulis buku dengan judul Menulis Siapa Takut. Tapi kalah dalam lomba dan Omjay kirim ke penerbit mayor, ternyata lolos dan terus dapat royalty 5 tahun. Jangan takut ditolak sambil memperkenalkan nama kita ke penerbit.
Omjay jadi banyak belajar semenjak buku ditolak penerbit mayor. Beliau perbaiki dan terus perbaiki sehingga naskah buku menjadi lebih enak dibaca. Butuh waktu lama mengerjakannya. Omjay pantang menyerah. Beliau belajar dari penolakan. Beliau pergi ke toko buku dan membaca buku-buku best seller. Dari sanalah Omjay akhirnya tahu rahasia buku mereka laris dibaca pembaca.
Sejak saat itu Omjay semakin menggebu-gebu semangatnya. Ibarat perahu yang sudah berlayar tentu pantang untuk kembali ke pelabuhan. Jalan terus sampai tujuan walaupun akan banyak ombak besar menghadang. Tidak ada nahkoda ulung yang tidak melalui lautan yang berombak ganas. Justru disitulah keahliannya teruji.
Ketika bukumu ditolak penerbit, teruslah menulis dan jangan berhenti menulis. Ketika engkau terus menulis, maka tulisanmu akan semakin tajam dan nendang. Pasti tulisanmu akan layak jual. Pasti tulisanmu akan banyak dibaca orang. Kuncinya satu mau belajar dan pantang menyerah.
Perbaiki dan terus perbaiki sehingga penerbit mayor mau menerbitkan bukumu tanpa kita keluar uang satu senpun. Kitapun tersenyum ketika royalti buku kita mencapai angka yang fantastis. Puluhan bahkan ratusan juta rupiah kita dapatkan bila buku kita laku keras.
Kesimpulan
1. Jangan takut untuk mulai menulis
2. Sebuah karya kita di tolak bukan berarti pemicu kita untuk berhenti berkarya. Melainkan menjadi pemicu semangat kita untuk berlatih lebih giat lagi.
3. Jadilah guru tangguh berhati cahaya. Kegagalan adalah awal dari sukses yang tertunda. Kuncinya satu mau belajar dan pantang menyerah.
4. Jangan berhenti menulis. Ketika kita terus menulis,maka tulisan kita akan semakin tajam.
( bukaswati@gmail.com )
Ketika Bukumu Ditolak Penerbit Mayor
Mengutif dari penjelasan Wijaya Kusumah ( Omjay )
Sedih rasanya bila buku yang kita tulis ditolak oleh penerbit. Omjay sendiri pernah merasakannya. Makan tak enak, tidurpun tak nyenyak. Lebih baik sakit gigi daripada sakit hati kata Omjay.
Namun Omjay termasuk orang yang pantang menyerah. Ketika naskah bukunya ditolak para penerbit mayor, beliau tidak putus asa. Beliau menerimanya dengan lapang dada dan senyuman meskipun terasa pahit.
Berkali kita gagal lekas bangkit dan cari akal. Berkali kita jatuh lekas berdiri jangan mengeluh. Jadilah guru tangguh berhati cahaya. Kegagalan adalah awal dari sukses yang tertunda. Gembirakan dirimu dengan terus belajar kepada orang-orang yang telah sukses menerbitkan bukunya.
Beliau memperbaiki tulisannya. Kemudian beliau baca kembali. Beberapa teman yang beliau percaya , dimintai untuk memberikan masukan. Hasilnya buku beliau menjadi lebih baik dari sebelumnya dan lebih enak untuk dibaca. Sakit hati ini terasa terobati.
Ibarat seorang mahasiswa S1 yang skripsinya dipermak habis sama dosen pembimbingnya. Ibarat mahasiswa S2 yang tesisnya ditolak promotornya dan ibarat mahasiswa S3 yang ditolak proposal desertasinya.
Beliau sangat berterima kasih kepada para penerbit yang sudah menolak buku yang telah disusunnya. Dengan begitu buku yang disusun menjadi layak jual. Coba kalau seandainya naskah buku beliau langsung diterima, pasti banyak yang tidak laku karena isinya kurang menarik hati pembaca. Buku Omjay terbit tapi tidak banyak pembelinya, karena bukunya tidak menarik hati pembaca.
Pengalaman menarik Omjay saat aku menulis apa adanya, ternyata buku dilombakan menang. Tetapi Omjay pernah menulis buku dengan judul Menulis Siapa Takut. Tapi kalah dalam lomba dan Omjay kirim ke penerbit mayor, ternyata lolos dan terus dapat royalty 5 tahun. Jangan takut ditolak sambil memperkenalkan nama kita ke penerbit.
Omjay jadi banyak belajar semenjak buku ditolak penerbit mayor. Beliau perbaiki dan terus perbaiki sehingga naskah buku menjadi lebih enak dibaca. Butuh waktu lama mengerjakannya. Omjay pantang menyerah. Beliau belajar dari penolakan. Beliau pergi ke toko buku dan membaca buku-buku best seller. Dari sanalah Omjay akhirnya tahu rahasia buku mereka laris dibaca pembaca.
Sejak saat itu Omjay semakin menggebu-gebu semangatnya. Ibarat perahu yang sudah berlayar tentu pantang untuk kembali ke pelabuhan. Jalan terus sampai tujuan walaupun akan banyak ombak besar menghadang. Tidak ada nahkoda ulung yang tidak melalui lautan yang berombak ganas. Justru disitulah keahliannya teruji.
Ketika bukumu ditolak penerbit, teruslah menulis dan jangan berhenti menulis. Ketika engkau terus menulis, maka tulisanmu akan semakin tajam dan nendang. Pasti tulisanmu akan layak jual. Pasti tulisanmu akan banyak dibaca orang. Kuncinya satu mau belajar dan pantang menyerah.
Perbaiki dan terus perbaiki sehingga penerbit mayor mau menerbitkan bukumu tanpa kita keluar uang satu senpun. Kitapun tersenyum ketika royalti buku kita mencapai angka yang fantastis. Puluhan bahkan ratusan juta rupiah kita dapatkan bila buku kita laku keras.
Kesimpulan
1. Jangan takut untuk mulai menulis
2. Sebuah karya kita di tolak bukan berarti pemicu kita untuk berhenti berkarya. Melainkan menjadi pemicu semangat kita untuk berlatih lebih giat lagi.
3. Jadilah guru tangguh berhati cahaya. Kegagalan adalah awal dari sukses yang tertunda. Kuncinya satu mau belajar dan pantang menyerah.
4. Jangan berhenti menulis. Ketika kita terus menulis,maka tulisan kita akan semakin tajam.

No comments:
Post a Comment